Dunia pendidikan kembali mendapat teguran. Belum selesai masalah kekerasan pelajar, kini kalangan pendidik lagi-lagi kecolongan menyajikan ke siswa pelajaran berkonten negatif. Soal ujian akhir sekolah (UAS) Bahasa Sunda untuk kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Bogor diketahui telah memuat wacana tentang perkosaan. Akun facebook Taufik Faturohman yang pertama kali mengunggah soal tersebut di sosial media (14/2). Soal yang diujikan (9/12) lalu itu sempat menghebohkan dunia maya, netizen banyak menyayangkan hal tersebut. Pihak guru yang membuat soal itu dikabarkan telah meminta maaf atas kelalaiannya membuat wacana tersebut. Pihaknya mengaku tidak memiliki unsur kesengajaan menyusun soal seperti itu. Semoga masalah ini bukan hanya selesai sampai di kata 'maaf' saja atau sampai penarikan kertas soalnya saja. Yang jelas para siswa telah terlanjur membaca dan mungkin mengernyitkan dahinya, berusaha memahami dengan baik maksud soal ujian tersebut. Kasus kecolongan soal ujian atau materi pelajaran berkonten negatif sudah sering berulang. Kasus yang paling kerap terjadi ialah pada buku lembar kerja siswa (lks) untuk sekolah dasar. Saking seringnya sampai-sampai Kementerian Pendidikan pernah mengumumkan pernyataan bahwa pihaknya tidak bertanggung jawab jika terjadi kasus pemuatan konten negatif di buku pelajaran siswa. Kemendikbud menyerahkan tanggungjawab sepenuhnya ke kepala sekolah yang bertugas menyeleksi buku yang dipakai di sekolahnya masing-masing. Sampai-sampai Kemendikbud mengeluarkan peraturan bahwa buku pelajaran yang beredar harus mencantumkan nomor telepon penulis bukunya. Jadi, jika ada keluhan atau protes dari masyarakat bisa langsung menghubungi penulisnya. Jika pemerintah melalui Kemendikbud saja sudah tidak bersedia lagi jadi pengontrol media ajar yang ada di sekolah-sekolah. Maka wajar jika masyarakat kini tidak menganggap sekolah sebagai tempat aman bagi anak-anaknya. Orangtua menitipkan anak-anaknya di sekolah dengan harapan pendidikan di negeri ini telah se- iya se-kata dalam menyajikan materi pelajaran yang bermutu. Nyatanya, untuk bahan ajar di kelas saja masih rentan kecolongan dengan konten negatif. Pendidikan di negeri ini masih belum jadi bahasan utama yang mampu mengalahkan ramainya berita politik. Kelalaian dalam penataan bahan ajar menunjukkan lemahnya sistem pendidikan kita. Demikian sibuknya para pendidik kita hingga mengajar saja terburu-buru sampai ceroboh menyeleksi bahan ajar yang ada. Begitupula buku-buku pelajaran atau LKS yang dijual di pasaran, demikian mudahnya beredar di lingkungan sekolah. Maka, bukan tak mungkin bila penulis sembarangan yang membuat konten negatif dalam materi pelajaran bisa saja lolos tanpa kontrol. Pemerintah sepertinya hanya habis energinya menyoroti isu-isu besar saja seperti UN dan kurikulum 2013. Hal-hal strategis terkait sistem belajar mengajar diserahkan kepada pendidik di sekolah. Namun, jika ada masalah, lagi-lagi nilai UKG rendah guru Indonesia selalu dijadikan kambing hitam. Pemerintah lupa majunya bangsa kita turut ditentukan oleh kualitas generasi penerus yang salah satunya masih duduk di bangku sekolah. Kehati-hatian dalam menyajikan bahan ajar di sekolah menunjukkan kepedulian atas kualitas output para lulusannya nanti. Semoga sekolah bisa kembali menjadi tempat aman bagi para orangtua menitipkan anak-anaknya tanpa kuatir teracuni hal negatif.
Sunday, 18 December 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment