Apa yang terbayang di pikiran Anda bila disebutkan "ada seorang anak sedang belajar"? Umumnya kita akan membayangkan seorang anak yang sedang duduk di meja belajar dengan setumpuk buku tulis dan buku pelajaran di depannya, atau seorang siswa yang duduk manis mendengarkan pelajaran yang diterangkan gurunya. Mungkin yang Anda bayangkan kurang lebih seperti itu bukan? Lalu apakah seorang anak yang sedang bermain petak umpat dengan teman temannya tidak bisa disebut belajar?
"Belajar dimana saja dan kapan saja". Memang demikianlah hakikatnya pendidikan itu. Belajar tidak selalu diartikan harus berada di sebuah ruang kelas dengan seorang guru sementara siswanya mendengarkan di bangkunya masing-masing masing. Bila ada seorang anak yang sedang duduk di depan komputernya untuk browsing internet, menelusuri kata kunci 'kekayaan laut Indonesia', maka tentu hal itu juga pantas disebut belajar.
Begitu pula, jika ada beberapa anak yang sedang diam diam mengamati seekor burung yang sedang membuat sarang di pohon dan akan menetaskan telurnya. Kegiatan tersebut yang tampak sepele tapi sebenarnya juga layak disebut belajar. Ataupun bila ada banyak anak yang sedang asyik main petak umpet, hal ini mungkin permainan biasa tapi sesungguhnya bermain adalah proses belajar! Lihat saja kecerdasan motorik dan kemampuan mengatur strategi yang harus dikuasainya agar tidak tertangkap lawan.
Belajar tak perlu diartikan dengan pengertian yang terbatas atau sempit yakni siswa duduk di bangkunya dalam ruang kelas sambil mendengarkan penjelasan guru. Sekarang teknologi semakin canggih, hingga papan tulis sudah mulai terganti dengan layar CD dan buku diganti dengan laptop dan e-booknya, namun tetap pengertian belajar masih seputar siswa diam dan guru menjelaskan. Seharusnya bila tak ada guru secara fisik pun, yakni diganti dengan guru virtual atau tutorial (panduan) online, maka itu selayaknya juga disebut belajar.
Semakin kita memperluas definisi dari kegiatan 'belajar' itu, semakin berkembang pula kecerdasan dan pengalaman yang dimiliki sang anak. Belajar bisa dilakukan dimanapun, kapanpun dan bersama siapapun. Biarkan anak bebas belajar di universitas kehidupan, karena kehidupan adalah guru yang terbaik. Tentu akhirnya pun kelak mereka akan bertarung di kehidupan nyata, lantas mengapa kita tak membiarkan mereka belajar sejak sekarang di universitas kehidupan.
Biarkan mereka ikut orang tuanya bertransaksi di bank, belanja sayur di pasar, membantu mengasuh adiknya yang masih bayi, membantu memperbaiki genteng bocor, melihat proses pembuatan SIM dan KTP orang tuanya, ikut kerja bakti lingkungan perumahannya, jadi panitia penggalangan dana sosial membantu korban bencana, dan masih banyak lagi berderet-deret kegiatan belajar lainnya. Semua itu adalah definisi belajar di universitas kehidupan! Biarkan mereka belajar seluas-luasnya dan seaplikatif mungkin tentang apapun di kehidupan nyata. Dengan demikian mereka akan cepat tumbuh menjadi pribadi dewasa yang matang dan piawai mengarungi samudera kehidupannya.
Selamat belajar di universitas kehidupan!
Tuesday, 12 August 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment