Saturday, 28 February 2015

Saturday, February 28, 2015
Konsep pendidikan yang diusung Ki Hajar Dewantara sangatlah istimewa dan akan memberi buah yang manis bila sungguh-sungguh kita terapkan di sistem pendidikan saat ini. Ki Hajar Dewantara tidak menempatkan pendidikan sebagai tujuan melainkan sebagai cara untuk mencapai tujuan.

Sementara tujuan utama kita mendidik adalah untuk melahirkan generasi berkepribadian positif dan memiliki kemampuan yang unggul. Karena itu, hal yang perlu kita standarisasikan adalah tercapainya tujuan tersebut. Dengan demikian cara untuk mencapai tujuan tersebut bisa beragam dan tak bisa distandarisasikan. Karena itu, proses pendidikan perlu bersifat lentur atau flexibel.

Sayangnya, sistem pendidikan kita sekarang justru semakin meninggalkan konsep yang diusung Ki Hajar Dewantara. Proses pendidikan dibuat terstandarisasi atau bersifat kaku sehingga tidak memberi ruang bagi keberagaman karakter dan bakat minat siswa. Akibatnya kita lihat saat ini banyak siswa masih bingung memetakan potensi diri sehingga semakin tak tau arah kemana mengasah cita-citanya. Ada yang masih bingung pilih jurusan kuliah, juga ada yang bingung mencari pekerjaan yang sesuai dengan potensi diri.

Praktik mendidik yang kaku dan masih sering kita temui adalah guru dan orang tua tak membiarkan siswa belajar apa yang disukainya. Semua diatur dengan kurikulum dan jadwal belajar yang kaku dan seragam. Padahal bagi siswa yang punya bakat minat di bidang seni musik tentu kecendrungannya adalah belajar ilmu yang berkaitan dengan seni musik. Sehingga pelajaran matematika atau sains bisa jadi menjadi pelajaran yang tak terlalu dibutuhkan dan disukainya.

Jika siswa terus dijauhkan dari pelajaran yang disukai dan dibutuhkannya,yang sesuai bakat minatnya maka potensi dirinya akan kurang berkembang.(Baca: Apa Itu Bakat Minat ?). Sementara siswa tersebut selalu disuguhi berbagai pelajaran yang tidak berkaitan dengan bakat minatnya maka ia akan merasa kesulitan mempelajarinya. (Baca: Tak ada Pelajaran Sulit jika Jadi Bakat Minatnya).

Lama kelamaan siswa akan menjadi malas belajar dan merasa bosan bahkan jadi stres. Inilah penyebab munculnya fenomena siswa yang suka membolos.(Baca: Mengapa siswa malas belajar?). Karena itu, guru dan orang tua perlu membebaskan siswa belajar apapun yang disukainya.

Terlebih bagi siswa usia dini yang sedang di fase eksplorasi, biarkan mereka mempelajari apapun yang sedang ingin diketahuinya. (Baca: Jauhkan Buku dan Pensil dari Siswa). Nantikan saja hasil positifnya bila siswa tak dikekang lagi keinginannya untuk belajar hal yang disukainya. Potensinya akan melejit dan mereka akan tumbuh menjadi ahli di bidangnya masing-masing.

0 comments:

Post a Comment